MAKNA HARI KEMENANGAN
*Rohmatul Fajri

TANPA terasa, kita sudah memasuki bulan Syawal. Itu berarti kita sampai pada masa di mana kebahagiaan atas kemenangan di bulan Ramadan sudah ada dalam dekapan. Setelah 30 hari menjalani ibadah puasa, menahan lapar dahaga, menahan hawa nafsu dan perbuatan tercela, pantas kiranya kita berbahagia merayakan kemenangan. Hari di mana -konon dikatakan manusia lahir kembali seperti bayi- seluruh umat muslim di dunia dengan gegap gempita merayakan kemenangan dan saling bermaaf-maafan atas kesalahan di tahun yang lalu.
Luapan kebahagiaan menyambut Hari Raya Idul Fitri selalu dihiasi berbagai macam kemeriahan. Namun, tidak sedikit masyarakat yang justru tenggelam dalam euphoria "kemenangan" yang selalu dieluelukan. Kemenangan-kemenangan semu yang hanya sampai pada "tataran permukaan", memakai pakaian baru, makan ketupat, dan opor ayam, bisa berbagi angpao kepada sanak saudara, dll.
Memang tidak ada yang salah dengan hal-hal di atas. Memakai baju baru adalah tanda bahwa jiwa dan hati juga menjadi baru, makan ketupat dan opor ayam adalah tanda syukur atas nikmat Tuhan, berbagi angpao juga merupakan hal yang sangat positif sebagai wujud berbagi kebahagiaan. Namun di balik semua itu, apakah makna sebenarnya dari "kemenangan"?
Beberapa waktu lalu di sebuah program berita kriminal di televisi ditayangkan dua orang ibu tertangkap tangan mencuri baju anakanak di sebuah pusat perbelanjaan. Alasannya sederhana, mereka terpaksa karena tidak bisa membelikan baju baru untuk anaknya pada Lebaran kali ini. Alasan sederhana tersebut menjadi sangat tidak sederhana jika kita urai, apa sebenarnya makna kemenangan Lebaran di benak para ibu tersebut? Apakah Lebaran harus dirayakan dengan memakai baju baru?
Kini, masyarakat sudah sedemikian terlena dengan kemenangankemenangan semu. Arus hedonisme sudah menjalar ke semua otak masyarakat Indonesia. Buktinya, menjelang Lebaran pusat-pusat perbelanjaan dan pasar penuh sesak dipenuhi orang dengan tujuan yang sama, berbelanja. Tanpa bermaksud menggeneralisasi, perbuatan ibu-ibu dalam kasus pencurian di atas menjadi sebuah cermin bagaimana masyarakat secara luas memaknai Lebaran. Lalu, bagaimana peran sosial para pemimpin, kaum agamawan, dan orang-orang kaum "atas" memberikan pendidikan dan pemahaman atas makna perjuangan di bulan Ramadan dan kemenangan di hari Lebaran?
Ironis tapi nyata, bahwa yang selama ini menjadi kiblat kebanyakan masyarakat kita adalah kaum berkecukupan seperti artis yang bergaya hidup glamor. Melihat fenomena di atas, hendaknya para public figure , pemerintah, wakil rakyat, kaum agamawan, artis, dan siapa pun termasuk diri kita sendiri, menyikapinya dengan serius. Harus ada upaya untuk merubah atau paling tidak mengurangi cara berfikir yang selama ini menjalar bahwa Lebaran dekat sekali dengan budaya konsumerisme.
Ketika budaya seperti di atas dibiarkan, maka akan semakin banyak kesenjangan yang terjadi ketika Lebaran tiba. Tidak semua orang berkecukupan secara materi, dan menjadi berbahaya ketika seseorang menempuh jalan pintas seperti kasus di atas. Ini menjadi pembelajaran yang tidak baik bagi masyarakat kecil. Membudayakan hidup sederhana, nrima , dan apa adanya menjadi cita-cita bersama yang harus kita wujudkan di tengah krisis di Indonesia yang berkepanjangan, dan kunci utamanya adalah keteladanan.
Kemenangan sejatiKemenangan sejati terletak di hati. Bukan di pakaian, makanan, dan barang-barang lainnya yang bersifat materi. Makna kemenangan harus lebih diarahkan pada upaya meraih kualitas diri yang lebih baik dan mempertahankannya. Mengoptimalkan relasi sosial dalam wujud silaturrahmi serta saling memberi kepada saudara yang kurang mampu. Sebagaimana dikemukakan Hassan Hanafi dalam bukunya Islam Kiri, kemenangan sejati adalah menyuarakan pembelaan pada kaum tertindas, lemah dan miskin, membela kepentingan seluruh umat manusia, mengambil hak orang miskin dari orang kaya dan menjadikan manusia sama rata kecuali atas dasar ketakwaan dan amal saleh.
Ketika semua umat Islam sudah memahami kemenangan yang demikian, banyak dampak positif yang akan ditimbulkan. Secara personal, manusia akan meningkatkan kualitas ketakwaannya dengan membina hubungan yang lebih baik dengan Sang Pencipta. Secara sosial, manusia juga akan lebih baik lagi menjalin hubungan dengan manusia yang lain, menjunjung tinggi keadilan, toleransi, kejujuran, dan menghargai yang lain.
Jika semua umat Islam memahami makna kemenangan sejati, maka Lebaran tidak harus dirayakan dengan baju baru dan opor ayam. Tradisi penuh gebyar dan nuasan glamor dalam menyambut Lebaran akan terhindarkan. Idul Fitri tidak harus menghambur-hamburkan uang untuk membeli pakaian mahal, apalagi menonjolkan diri yang melahirkan adanya disparitas yang kuat dengan yang lain. Lebaran cukup indah diwarnai dengan ketulusan untuk saling memaafkan, introspeksi diri, serta lebih bijak menjalani hidup di tengah kondisi bangsa yang kian memprihatinkan.
Dan jika umat Islam memahami makna kemenangan sejati, maka umat akan lebih arif dan menghargai perbedaan. Tidak akan ada lagi anarkisme atas nama apa pun, apalagi atas nama agama. Tidak akan ada lagi kelompok yang merasa paling benar. Semua akan saling menghargai terhadap setiap perbedaan. Tidak akan ada lagi penyerbuan ke masjid Ahmadiyah, serta tidak akan ada lagi pemukulan dan penganiayaan karena perbedaan pendapat dalam sikap keberagamaan. Semua menundukkan kepala dan mengakui bahwa yang Maha Benar dan Haq adalah Tuhan semata, tidak ada yang superior dan tidak ada yang inferior sesama manusia.
Jika pemerintah memahami makna kemenangan sejati, di waktu yang akan datang kita tidak akan lagi menemukan pejabat-pejabat korup, pejabat-pejabat dengan skandal yang tidak patut ditiru, serta pejabat yang memperjualbelikan hukum dengan lembaran-lembaran uang. Selain itu, pemerintah pun dengan kesadaran yang tinggi akan senantiasa melakukan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Pemerintah akan membuat kebijakan yang lebih cerdas, rasional dan didasari dengan hati dengan tidak menaikkan BBM ketimbang menjadikan rakyat Indonesia sebagai manusia dengan mental peminta dengan memberikan BLT.
Dan jika para wakil rakyat juga memahami makna kemenangan sejati, maka kita tidak akan menemukan wakil rakyat yang membuat kebijakan yang tidak bijak. Mereka tidak akan mengurusi cara berpakaian seseorang bahkan mengesahkannya ke dalam sebuah undang-undang ketika korupsi dan praktik penyuapan semakin merajalela, apa yang menjadi kepentingan pribadi dan sangat prinsipil bagi individu warga negara tidak akan menjadi urusan pemerintah. Mereka akan tahu mana yang harus diprioritaskan dan harus segera diselesaikan.
Melewati gemblengan Ramadan, kemudian mencapai Syawal dengan merayakan Idul Fitri memang menjadi momen yang sangat baik bagi kita untuk belajar, untuk introspeksi, melihat kembali bagaimana kita menjalani hidup, dengan pemaknaanpemaknaan yang lebih arif dan bijak.
Tanpa membedakan status dan kedudukan, kita semua akan mendapatkan kemenangan sejati jika kita bisa memaknai kemenangan dengan hati. Wallahu a"lam bish-shawab
Luapan kebahagiaan menyambut Hari Raya Idul Fitri selalu dihiasi berbagai macam kemeriahan. Namun, tidak sedikit masyarakat yang justru tenggelam dalam euphoria "kemenangan" yang selalu dieluelukan. Kemenangan-kemenangan semu yang hanya sampai pada "tataran permukaan", memakai pakaian baru, makan ketupat, dan opor ayam, bisa berbagi angpao kepada sanak saudara, dll.
Memang tidak ada yang salah dengan hal-hal di atas. Memakai baju baru adalah tanda bahwa jiwa dan hati juga menjadi baru, makan ketupat dan opor ayam adalah tanda syukur atas nikmat Tuhan, berbagi angpao juga merupakan hal yang sangat positif sebagai wujud berbagi kebahagiaan. Namun di balik semua itu, apakah makna sebenarnya dari "kemenangan"?
Beberapa waktu lalu di sebuah program berita kriminal di televisi ditayangkan dua orang ibu tertangkap tangan mencuri baju anakanak di sebuah pusat perbelanjaan. Alasannya sederhana, mereka terpaksa karena tidak bisa membelikan baju baru untuk anaknya pada Lebaran kali ini. Alasan sederhana tersebut menjadi sangat tidak sederhana jika kita urai, apa sebenarnya makna kemenangan Lebaran di benak para ibu tersebut? Apakah Lebaran harus dirayakan dengan memakai baju baru?
Kini, masyarakat sudah sedemikian terlena dengan kemenangankemenangan semu. Arus hedonisme sudah menjalar ke semua otak masyarakat Indonesia. Buktinya, menjelang Lebaran pusat-pusat perbelanjaan dan pasar penuh sesak dipenuhi orang dengan tujuan yang sama, berbelanja. Tanpa bermaksud menggeneralisasi, perbuatan ibu-ibu dalam kasus pencurian di atas menjadi sebuah cermin bagaimana masyarakat secara luas memaknai Lebaran. Lalu, bagaimana peran sosial para pemimpin, kaum agamawan, dan orang-orang kaum "atas" memberikan pendidikan dan pemahaman atas makna perjuangan di bulan Ramadan dan kemenangan di hari Lebaran?
Ironis tapi nyata, bahwa yang selama ini menjadi kiblat kebanyakan masyarakat kita adalah kaum berkecukupan seperti artis yang bergaya hidup glamor. Melihat fenomena di atas, hendaknya para public figure , pemerintah, wakil rakyat, kaum agamawan, artis, dan siapa pun termasuk diri kita sendiri, menyikapinya dengan serius. Harus ada upaya untuk merubah atau paling tidak mengurangi cara berfikir yang selama ini menjalar bahwa Lebaran dekat sekali dengan budaya konsumerisme.
Ketika budaya seperti di atas dibiarkan, maka akan semakin banyak kesenjangan yang terjadi ketika Lebaran tiba. Tidak semua orang berkecukupan secara materi, dan menjadi berbahaya ketika seseorang menempuh jalan pintas seperti kasus di atas. Ini menjadi pembelajaran yang tidak baik bagi masyarakat kecil. Membudayakan hidup sederhana, nrima , dan apa adanya menjadi cita-cita bersama yang harus kita wujudkan di tengah krisis di Indonesia yang berkepanjangan, dan kunci utamanya adalah keteladanan.
Kemenangan sejatiKemenangan sejati terletak di hati. Bukan di pakaian, makanan, dan barang-barang lainnya yang bersifat materi. Makna kemenangan harus lebih diarahkan pada upaya meraih kualitas diri yang lebih baik dan mempertahankannya. Mengoptimalkan relasi sosial dalam wujud silaturrahmi serta saling memberi kepada saudara yang kurang mampu. Sebagaimana dikemukakan Hassan Hanafi dalam bukunya Islam Kiri, kemenangan sejati adalah menyuarakan pembelaan pada kaum tertindas, lemah dan miskin, membela kepentingan seluruh umat manusia, mengambil hak orang miskin dari orang kaya dan menjadikan manusia sama rata kecuali atas dasar ketakwaan dan amal saleh.
Ketika semua umat Islam sudah memahami kemenangan yang demikian, banyak dampak positif yang akan ditimbulkan. Secara personal, manusia akan meningkatkan kualitas ketakwaannya dengan membina hubungan yang lebih baik dengan Sang Pencipta. Secara sosial, manusia juga akan lebih baik lagi menjalin hubungan dengan manusia yang lain, menjunjung tinggi keadilan, toleransi, kejujuran, dan menghargai yang lain.
Jika semua umat Islam memahami makna kemenangan sejati, maka Lebaran tidak harus dirayakan dengan baju baru dan opor ayam. Tradisi penuh gebyar dan nuasan glamor dalam menyambut Lebaran akan terhindarkan. Idul Fitri tidak harus menghambur-hamburkan uang untuk membeli pakaian mahal, apalagi menonjolkan diri yang melahirkan adanya disparitas yang kuat dengan yang lain. Lebaran cukup indah diwarnai dengan ketulusan untuk saling memaafkan, introspeksi diri, serta lebih bijak menjalani hidup di tengah kondisi bangsa yang kian memprihatinkan.
Dan jika umat Islam memahami makna kemenangan sejati, maka umat akan lebih arif dan menghargai perbedaan. Tidak akan ada lagi anarkisme atas nama apa pun, apalagi atas nama agama. Tidak akan ada lagi kelompok yang merasa paling benar. Semua akan saling menghargai terhadap setiap perbedaan. Tidak akan ada lagi penyerbuan ke masjid Ahmadiyah, serta tidak akan ada lagi pemukulan dan penganiayaan karena perbedaan pendapat dalam sikap keberagamaan. Semua menundukkan kepala dan mengakui bahwa yang Maha Benar dan Haq adalah Tuhan semata, tidak ada yang superior dan tidak ada yang inferior sesama manusia.
Jika pemerintah memahami makna kemenangan sejati, di waktu yang akan datang kita tidak akan lagi menemukan pejabat-pejabat korup, pejabat-pejabat dengan skandal yang tidak patut ditiru, serta pejabat yang memperjualbelikan hukum dengan lembaran-lembaran uang. Selain itu, pemerintah pun dengan kesadaran yang tinggi akan senantiasa melakukan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Pemerintah akan membuat kebijakan yang lebih cerdas, rasional dan didasari dengan hati dengan tidak menaikkan BBM ketimbang menjadikan rakyat Indonesia sebagai manusia dengan mental peminta dengan memberikan BLT.
Dan jika para wakil rakyat juga memahami makna kemenangan sejati, maka kita tidak akan menemukan wakil rakyat yang membuat kebijakan yang tidak bijak. Mereka tidak akan mengurusi cara berpakaian seseorang bahkan mengesahkannya ke dalam sebuah undang-undang ketika korupsi dan praktik penyuapan semakin merajalela, apa yang menjadi kepentingan pribadi dan sangat prinsipil bagi individu warga negara tidak akan menjadi urusan pemerintah. Mereka akan tahu mana yang harus diprioritaskan dan harus segera diselesaikan.
Melewati gemblengan Ramadan, kemudian mencapai Syawal dengan merayakan Idul Fitri memang menjadi momen yang sangat baik bagi kita untuk belajar, untuk introspeksi, melihat kembali bagaimana kita menjalani hidup, dengan pemaknaanpemaknaan yang lebih arif dan bijak.
Tanpa membedakan status dan kedudukan, kita semua akan mendapatkan kemenangan sejati jika kita bisa memaknai kemenangan dengan hati. Wallahu a"lam bish-shawab