Oleh :
Prof. Helius Sjamsuddin, M.A, Ph. D*
Mengapa atau bagaimana sejarah dan atau pendidikan sejarah dapat berperan serta memberikan urunannya bersama-sama dengan sejumlah besar disiplin lain dalam mencoba mengejar dan mencapai tujuan besar dan umum ini ?. Sebenarnya, sejarah menyangkut kapada pemenuhan aspek-aspek kognitif dan efektif dan tujuan-tujuan itu, hakekat dari kajian sejarah dan/atau pendidikan sejarah sendiri sesungguhnya secara intrinsik memungkikannya. Uraian-uraian dibawah ini mencoba untuk menunjukkannya secara umum.
Sejarah sebagai inkuiri
Kata “sejarah” merupakan terjemahan Indonesia dari kata Inggris “history”, dan bahasa Inggris sendiri pada giliran sebelumnya secara etimologis mengambilnya dari kata Yunani “historia” yang artinya “inquiri” atau “ research”. Jadi inti kandungan sejarah sejak awal sampai sekarang sebenarnya adalah suatu disiplin yang merupakan produk dari suatu penelitian. Semua sejarawan umumnya sepakat bahwa sejarah itu merupakan hasil dari suaru penelitian. Akan tetapi tidak semua sejarawan sepakat bersama mengenai satu definisi sejarah. Meskipun demikian untuk tidak terpaku dalam diskusi berkepanjangan mengenai semua definisi yang ada kita mengambil salah satu contoh definisi seperti yang dikemukakan oleh sejarawan Amerika James Harvey Robinson, bahwa “Sejarah adalah “semua yang kita ketahui mengenai segala sesuatu yang telah dilakukan, atau dipikirkan, atau diharapkan, atau dirahasiakan oleh manusia.” (J.H. Robinson,1965:xi-xii,1). Jadi didalam sejarah, manusia selalu tetap menjadi sentral. Manusia menjadi subjek sekaligus objek dari kajian yaitu mengenai apa yang telah dilakukan (terjadi,peristiwa) atau dipikirkan, atau diharap, atau dirasakan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat. Kata telah ditekankan karena menunjukkan kelampauan (past), faktor temporal (waktu) yang menjadi ciri khas dari kajian sejarah. Kelampauan ini dapat jauh dari kita (distant past), tetapi juga beberapa saat yang lalu yang dekat sekali dengan kita (recent past). (John Tosh. 1984:13)
Sejarah dan Pendidikan
Paling sedikit ada tiga motif seseorang hirau kepada kajian mengenai manusia dan kemanusiaan dari masa lampau:estetika(aestheric),didakti (didactic) dan ilmiah (scientific) (H.L.Harris,1930:5 Cokin & Stomberg, 1971: 223). Sadar atau tidak sadar, ketiga motif ini dapat hadir bersama-sama meskipun dalam bobot yang masing-masing berbeda, akan tetapi tidak saling bertentangan. Ada suatu ketika, misalnya motif pertama menonjol dengan pemaparan bahasa dan narasi yang indah dan gemerlap, sedangkan motif kedua dan ketiga berkurang ; atau pada kesempatan lain, motif kedua menonjol dengan tekanan utam pada moral dan/atau pendidikan, motif pertama dan ketiga berkurang ; atau motif ketiga yaitu ilmiah ditampilkan jauh kedepan, sedangkan motif pertama dan kedua terdesak jauh kebelakang. Namun tidak mustahil bahwa ketiga motif itu dapat hadir dalam porsi yang sama tanpa harus saling bertentangan. Kesinambungan inilah yang sebenarnya merupakan tipe paling ideal.
Khusus untuk motif kedua, sejarah dari “sejarah” sejak awal-mulanya sebagai salah satu bentuk disiplin ilmu pada abad ke-5 SM tidak dapat dilepaskan dari pendidikan. Tidak seperti ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial yang dalam perkembangannya pada abad ke-20 umumnya “bebas nilai” (value free), kajian sejarah sejak awal-mulanya selalu dikaitkan dengan “nilai guna” (use value) bagi kehidupan manusia sebgai individu dan/atau masyarakat.Itu sebabnya sejarah menempati posisi unik sebagai “hybrid discipline” karena merupakan sekaligus ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora, humanitie) dan ilmu sosial (social science). (Wilson Gee, 1950 : 36-44 ; John Tosh , 1984: 24). Jika berbicara tentang nilai guna sejarah, kaitannya selalu menjurus kepada fungsi dan peranan sejarah dalam pendidikan (historical education). Sejarah mempunyai relevansi praktis yang beragam dan bermakna. Pendidikan sejarah dapat memberikan pelatihan bagi warga negara maupun bagi negarawan. Banyak sejarawan yang tertarik kepada pelajaran-pelajaran (lessons) yang dapat ditrik dari masa lalu dan kepada makna sejarah (Tosh, 1984 :18)
Sejarawan dari tradisi klasik Yunani –Romawi seperti Herodotus (484?-425 SM). Thucydides (kk.460-kk.400 SM ), Polybius (kk.205-kk.125 SM), Cicero (106-43 SM), Titus Livy (59 SM-17 M), Tacitus (kk. 55-kk.120) selalu mengaitkan sejarah dengan nilai praktis-pragmatis.
Herodotus yang disebut “ Bapak Sejarah” (H.E. Barnes, 1962 : 28) dan menulis The Persian Wars tentang perang antara Yunani dan bangsa “barbar” (Persia) pada pertengahan abad ke-5 SM menarik karena karyanya memberikan kepada “kemanusiaan yang lebih luas.” (Conkin & Stromberg, 1971 : 11-12). Thucydides menulis tentang tragedi perang saudara di Yunani yaitu antara Sparta dan Athena dalam The Peloponnesian Wars (431-404 SM) dengan maksud mencoba memahaminya utuk belajar. Di masa depan manusia dapat mencegah tragedi-tragedi semacam itu jika mereka mereka mau belajar dari sejarah. (Conkin & Stromberg, 1971 : 13) Polybius adalah orang yang pertama kali secara khusus mengatakan bahwa sejarah adalah “philosophy teaching by example” yang kemudian dipopulerkan oleh Dionysus dari Halicarnassus abad ke-7 M. (Barnes, 1962 : 35,43; Conkin & Sromberg. 1971 :18) Ia juga mengatakan bahwa : “Semua orang mempunyai dua cara untuk menjadi baik , satu berasal dari pengalaman mereka sendiri, dan satu lagi belajar dari pengalaman orang lain.” (harris, 1930: 12-13) Cicero (106-43 SM) membuat beberapa adagium bahwa sejarah adalah “cahaya kebenaran, saksi waktu, guru kehidupan” : Historia Magistra Vitae (Sejarah adalah Guru Kehidupan); atau Prima esse historiae legem ne quid falsi dicere audeat. ne quid veri non aideat (Hukum pertama dalam sejarah adalah takut mengatakan kebohongan. Hukum berikutnya tidak takut mengatakan kebenaran). (Conkin & Stromberg , 1971 : 17 ; William Leo Lucey , 1984 : 14-15) Titus Livy, melihat fungsi praktis sejarah : kebanggaan pada ras, bangsa, atau kelompok. (Conkin & Stromberg, 1971 : 15) Tacitus dijuluki sejarawan moralis (moralizing historian) karena mengajarkan “sejarah didaktis” (didactic history). Ia terkenal dengan ucapannya :” Fungsi tertinggi sejarah adalah untuk menjamin bahwa perbuatan-perbuatan jahat (evil) harus diperlihatkan untuk dikutuk oleh generasi kemudian . Baginya sejarah sebagai “suatu pengajaran bagi masa sekarang dan suatu peringatan bagi masa yang akan datang.” (Conkin & Stromberg, 1971 : 15,17) .
Semua kutipan diatas menunujukkan bahwa sejarah dikaitkan dengan kegunaan praktisnya, semacam ajaran moral dan/atau pendidikan. Akan tetapi disadari juga sejak awal bahwa porsi yang berlebih-lebihan akan dapat menjadikan sejarah sebagai ajaran moral yang menggusarkan.
Nilai guna sejarah
Dalam perkembangan selanjutnya dari ilmu sejarah, dari sejumlah nilai gunanya,kita dapat mengelompokkannya menjadi dua bagian yaitu nilai intrinsik dan nilai disiplin.
Pertama, nilai intrinsik yaitu nilai yang dimiliki atau dikandung oleh sejarah sebagai sebuah tubuh ilmu pengetahuan (abody of knowledge). Yang termasuk nilai intrinsik ini ialah : interpretasi dan eksplanasi, bimbingan (quidance), inspirasi dan kesadaran kelompok. (Harris, 1930 : 11, Lee, 1978 : 72-93 ; Tosh, 1984 : 2-3)
a. Interprestasi dan eksplanasi. Keingintahuan intelektual tentang masa lalu tentu saja merupakan suatu alasan orang mengkaji atau membaca sejarah, tetapi ini bukan satu-satunya alasan. Masyarakat juga mengharapkan suatu interprestasi masa lalu yang relevan dengan masa sekarang dan sebagai basis untuk memformulasikan keputusan-keputusan tentang masa yang akan datang (Tosh, 1984 : 21) Selain daripada itu sejarawan tidak cukup puas hanya dengan: merekreasi masa lalu” saja : yang amat penting “menjelaskan” (eksplanasi) terhadap masa lalu itu. Tujuannya adalah mengidentifikasikan kecenderungan, menganalisis sebab dan akibat. Singkatnya menafsirkan sejarah sebagai suatu proses yang berkesinambungan. (Tosh, 1984 : 19) Sebenarnya semua sejarah yang dianggap masuk akal ialah yang berusaha untuk membuat masa sekarang dapat dipahami dan masa yang akan datang dapat diatur dengan mengambil referensi dari sumber-sumber mereka pada masa lalu. Tujuan utama sejarah ialah menyingkap dan menafsirkan masa lalu, untuk menentukan bagaimana suatu kenyataan telah terjadi seperti itu. Sejarawan profesional mungkin semata-mata perhatiannya tersita oleh suatu zaman tertentu tanpa menghiraukan masa sekarang. Tetapi sejarah dalam arti luas tidak dapat berbuat begitu, dan guru sejarah dalam pikirannya harus mempunyai kebutuhan terus-menerus mengenai masa sekarang. (Harris, 1930 : 11-12 ; Vide Lee, 1978 : 72-93) Merekontruksi sejarah dari masa lalu mempunyai nilai, pertama-tama sebagai pendahuluan kepada penjelasan sejarah, dan jenis penjelasan yang penting ialah yang berhubungan dengan pertanyaan mengenai kepedulian sosial, ekonomi dan politik. (Tosh, 1984 : 23)
b. Bimbingan. Perasaan (sense) mengenai apa yang dapat kita kerjakan pada masa yang akan datang dibentuk oleh suatu kesadaran mengenai apa yang telah terjadi atau tidak pernah terjadi pada masa lalu. Singkatnya kita “belajar dari pengalaman”. Bagi masyarakat, sejarah merupakan memori (ingatan) kolektif, gudang dari pengalaman yang dengan itu masyarakat manusia mengembangkan suatu rasa identitas sosial dan prospek-prospek masa depan mereka.(Tosh1984 :1) Sejarah mengandung pelajaran-pelajaran mengenai bagaimana harus bertindak dalam situsi-situsi tertentu yang telah terjadi sebelumnya. Manusia berjuang untuk belajar dari kesalahan dan keberhasila dalam kehidupan sehari-hari dari setiap pengalaman individual. (Tosh, 1984 : 8-9) Bagi masyarakat atau bangsa Indonesia, misalnya, Sejarah Nasional Indonesia merupakan pengalaman kolektif bangsa sejak proses pembentukan satu bangsa dari berbagai suku bangsa sampai kepada terbentuknya negara dan sesudahnya. Selanjutnya nilai sejarah sebagai pembimbing tidak berarti sejarah sanggup meramalkan (prediksi) masa yang akan datang. Pengetahuan sejarah bukan untuk memprediksi melainkan memprojeksi ke masa depan dari kecenderungan-kecenderungan sosial, politik atau ekonomi karena menyiapkan pemahaman kedalam kondisi-kondisi dimana tindakan-tindakan masa yang akan datang akan disingkap. Ini disebut “perspektif sejarah”. (Tosh, 1984 : 14). Sejarawan yang paling ahli dan terpelajarpun akan segan bertualang dalam bidang peramalan dan analogi itu. Masa lalu itu menyediakan contoh-contoh dan peringatan kepada kita. Machiavelli mengakui ini ketika ia mengatakan : “Orang-orang yang bijaksana berkata dengan akal bahwa untuk melihat sebelumnya ke masa depan ialah penting untuk berkonsultasi dahulu di masa lalu, karena peristiwa di dunia ini mempunyai hubungan baik sepanjang waktu dengan peristiwa-peristiwa yang telah mendahuluinya. Karena dihasilka oleh orang-orang yang selalu dihidupkan oleh dorongan-dorongan yang sama, mereka seharusnya mempunyai hasil-hasil yang sama.” (Harris, 1930:12-13 ;Rogers, 1984 : 23-27)
c. Inspirasi. Sejarah merupakan suatu sumber inspirasi dan pemahaman mengenai apa yang telah dipikirkan, dirasakan, diharapkan atau diperbuat seseorang individu atau kelompok masyarakat pada masa lalu. (Tosh, 1984 :7 ; Robinson, 1965 : xixii,1) Juga sejarah merupakan catatan (record) mengenai capaian-capaian manusia, inventarisasi aset-aset yang nilainya baru dapat disadari oleh generasi kemudian. (Tosh, 1984 : 7, 13, 19) Sebenarnya bagi orang-orang yang mendapat inspirasi dari suatu tingkah laku tertentu adalah merupakan masalah psikologis. Tenaga-tenaga pengarah dan motivasi itu jelas bukanlah murni intelektual. Emosi dan sentimen memainkan peranan yang lebih besar daripada proses-proses yang umumnya disebut intelektual. Reaksi-reaksi emosional dan sentimental dari berbagai jenis itu biasanya merupakan hasil dari kajian sejarah. Mengkaji sejarah bukan hanya memahami apa yang telah terjadi tetapi juga mengapresiasi masa lalu. Jadi kita turut mengalami (empati) sesuatu yang dari emosi-emosi manusia serta mengapresiasi apa yang menjadi tujuan-tujuan, capaian-capaian (prestasi-prestasi), dan peenderitaan-penderitaan mereka. Reaksi-reaksi emosional dan sentimental ini dapat menentukan tingkah laku dimasa yang akan datang. Emosi dan sentimen ini menentukan standar (ukuran) dan menetapkan ideal-ideal yang dapat tetap bertahan lama sesudah nama-nama dan peristiwa-peristiwa sejarah hilang dari pikiran atau lenyap dibawah sadar manusia. (Harris, 1930 : 13).
d. Kesadaran kelompok. Mencari identitas pribadi menuntut akar-akar dari masa lalu yang mula-mula kita cari dalam silsilah (genealogi) dan sejarah keluarga. Dalam lingkungan yang lebih luas, identitas kelompok dapat dicari pada proses perkembangan sejarahnya. Ikatan-ikatan yang kuat yang menyatukan suatu kelompok sosial yang besar ialah kesadaran anggota-anggotanya akan suatu sejarah yang sama. Tanpa kesadaran itu manusia tidak dapat dengan mudah mengakui klaim kesetiaan mereka pada abstraksi-abstraksi yang luas yaitu identifikasi kelompok yang sangat kuat pada masa modern yaitu yang disebut bangsa. Sejarah merupakan tenaga yang lebih kuat dalam membentuk kesadaran nasional. Ketika pertumbuhan nasionalisme pada abad ke-19 mencapai puncaknya di Eropa, sejarah mendapat posisi penting dalam pendidikan dan penelitian. Penulisan sejarah nasional merupakan cara yang paling efektif untuk memperoleh dukungan nasional rakyat dan manifestasi identitas bangsa. Kesadaran nasional yang menjadi pertimbangan utama bagi pendidikan massal dengan sejarah sebagai dasar yang penting dalam negara-negara kebangsaan (nation-states). Pendidikan guru-guru sejarah untuk berbagai jenjang sekolah-sekolah adalah merupakan kerjasama yang kuat antar kepakaran sejarah dengan rasa kebangsaan yang resmi diakui. (Tosh, 1984 :1,3) Di Inggris, sejarah dilihat sebagai suatu elemen pemersatu yang penting dalam budaya politik negara dengan mengkaji perkembangan lembaga demokrasi mereka. Apa yang disebut “penafsiran sejarah whig” ini dianggap sebagai sejarah nasional Inggris. (Tosh, 1984 : 5) Di Indonesia paradigma interpretasi “whig” ini digunakan oleh Muhammad Yamin untuk menunjukkan sejarah Sriwijaya , Majapahit, dan Republik Indonesia berturut-turut sebagai negara kesatuan pertama, kedua, dan ketiga. (Muhammad Yamin, 1954). Sejarawan Afrika mencoba mencari jati diri bangsa and menemukan kesadaran kelompok dengan bertolak dari sejarah sebelum kedatangan kolonialisme Barat. (Tosh, 1984 : 4)
Kedua, nilai disiplin ilmu yaitu nilai-nilai yang merupakan hasil daripada sejarah sebagai sebuah medium disiplin intelektual. Mengkaji sejarah tidak saja membantu kita menafsirkan dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan dinamika manusia, menyediakan bimbingan, inspirasi, dan solidaritas kelompok dalam menjalani kehidupan mereka, tetapi juga menyiapkan suatu disiplin mental yaitu melatih penggunaan proses mental dan latihan dalam pengembangan sikap-sikap mental tertentu sebgai bagian dari olah intelektual.
a. Melatih penggunaan proses mental. Sejarah dikatakan “melatih ingatan” (memory), imajinasi visual, dan pemberian pertimbangan (judment). Tetapi tidak ada ingatan,imajinasi visual atau pemberian pertimbangan jika tidak ada materi untuk diingat, divisualisasikan atau dipertimbangkan. Justru sejarah menyediakan materi dan metode khusus untuk melatih proses mental ini. Hanya harus diakui bahwa memori, imajinasi dan pertimbangan tidak dapat dilatih seperti melatih otot-otot. Metode-metode menyusun dan mensistimasikan materi dapat diajarkan dan karenanya dapat melatih memori , imajinasi dan pertimbangan. Jadi mengkaji sejarah harus melibatkan latihan berfikir. Atau dalam klasifikasi Benjamin S. Bloom dan David R. Krathwohl disebut koqnitif dengan berbagai tingkatannya. (Harris, 1930 :11, 13-15 ; Vide Bloom & Krathwohl, 1966: 2-39 ; 45-62).
b. Perkembangan sikap mental. Berkaitan dengan latihan penggunaan proses mental di atas, sikap-sikap kebiasaan mental dapat diperoleh dan terbentuk melalui kajian sejarah. Sikap tidak memihak intelektual termasuk dalam mencari fakta-fakta sejarah dan kecenderungan untuk memutuskan fakta-fakta tanpa prasangka, dapat dan harus dikembangkan melalui sejarah. Sikap kritis terhadap pernyataan-pernyataan fakta yang tidak terbukti, pertimbangan dalam berbagai segi dalam suatu kontroveksi, dapat menjadi kebiasaan, dan kajian sejarah yang diteliti dengan sewajarnya cenderung untuk mengembangkan kebiasaan ini. (Harris, 1930 : 15-16 ; cf. Bloom & Krathwohl, 1966 : 20-39 ;45-62)
Penyalahgunaan Sejarah
Karya-karya sejarah selain dapat digunakan terbatas pada lingkungan akademisi yaitu oleh para pakar sejarah sendiri yang tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat dalam arti untuk kebaikan ataupun keburukan, serta dapat menjadi dasar bagi diskusi informatif dan kritis atas isu-isu mutakhir, Karya-karya tersebut dapat pula dimanipulasi untuk mempromosikan bentuk-bentuk kesadaran nasional atau idiologi politik tertentu yang diinginkan oleh rejim yang sedang berkuasa. Penyalahgunaan sejarah (misuse, atau abuse) ini biasanya digunakan secara maksimal oleh rejim-rejim totaliter seperti pada masa Nazi-Hitler dan Komunis-Stalin dimana sejarah sebagai media propaganda untuk melegitimasi kehadiran rejimnya. (E.H. Dance,1960 :53-78) Hal serupa dapat juga terjadi jika sejarah digunakan sebagai ajaran “moral” yang berlebih-lebihan (moralistic Fallacy) sehingga dapat mengganggu “kebenaran” sejarah yang terus dicari. (D.H. Fischer, 1970 :78-82).
Dengan menyadari ini semua, sejarah dalam rangka pendidikan harus didudukkan pada tempat yang sewajarnya tanpa mengorbankan ukuran-ukuran ilmiah, apalagi digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang menyalahi hakekat ilmu sejarah sendiri.
Penutup
Sejarah dapat membuat kita mampu memahami diri kita sendiri dan masalah-masalah serta prospek-prospek kemanusiaan pada masa kini dan masa yang akan datang. Disini letak peranan sosial sejarah dan/atau pendidikan sejarah.
Bagi guru sejarah, tujuan membicarakan nilai-nilai (values) ini ialah untuk menunjukkan sasaran (aims) yang harus diingat dalam mengajarkan subjek sejarah. Nilai-nilai itu ialah interprestasi, bimbingan, inspirasi, kesadaran kelompok serta pengembangan sikap-sikap kebiasaan mental tertentu yang semuanya kalau kita rangkum dan meminjam taksonomi Bloom dan Krathwohl termasuk ranah-ranah efektif dan kognitif. Agar supaya nilai-nilai ini dapat direalisasikan, materi harus diseleksi dengan tepat. Sejarah harus dapat memberikan sumbangan bagi tujuan umum dari seluruh proses pendidikan. Khusus bagi pendidikan sejarah di Indonesia , tujan umum, itu ialah seperti apa yang menjadi tujuan umum Pendidikan Nasional Indonesia. Sejarah dapat melayani aspek-aspek kognitif maupun afektif yang menjadi tujuan umum Pendidikan Nasional yang hendak dicapai.
Daftar Pustaka
Barnes, Harry Elmer. 1962. A History of Historical Writing. New York : Dover Publication, Inc.
Burston, W.h. 1976, Principles of History Teaching, London : Methuen Education Ltd.
Carr, E.H. 1964. What is History ? Penguin Books.
Conkn, Paul K. & Stroberg, Roland N, 1971, The Heritage and Challenge of History, New York : Dodd, Mead & Company.
Dance, E.H. 1960, History The Betrayer, Study in Bias, London : Hutchinson.
Fenton, Edwin, 1966, Teaching The New Social Studies in Secondary Schools, An Inductive Approach. New York : Holth, Rinehart and Winston, Inc.
Fisher, David Hacket, 1970, Historian’s Fallacies. Toward a logic of Historical Thought, New York : Harper & Row Publishers.
Gard, A. & Lee, P.J. 1978. “ Educational objectives for the study of History,” dalam A.K. Dickinson & P.J. Lee, History Teaching and Historical Understanding. London : Heinemann Hal. 21-38.
Gee, Wilson, !950, Social science methods Research, New York : Appleton-Century-Crofts, inc.
Harris, H.L. 1930. The teaching of Histrory in Secondary Schools. Sydney: Angus & Robertson Ltd.
Lee, P.J. 1978 “Explanation and Understanding in History.” Dalam A.K. Dickinson & P.J. Lee, History Teaching and Historical Understanding .” London: Heinemann.hal.72-93.
Lucey, William Leo.1984. History : Methodes and Interpretation. New Yorks & London Garland Publising ,Inc
Marwati Djoened Posponegoro & Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia. 6 jilid. Jakarta : PN Balai Pustaka.
Muhammad Yamin. 1954. “Kumpulan Kuliah PTPG.”
Robinson, James Harvey. 1965. The New History. New Norrk : The Free Press.
Rogers, P.J. 1984. “Why Teach History ?” dalam A.K. Dickinson. P.J. Lee and P.J. Rogers, Laerning History. Heinemann Education Books.
Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta : PT Golden Terayon Press.
Tosh, John. 1984. The Pursuit of History : Aims : Methodes and New Directions in the Study of Modern History. London and New York : Longman.
* Penulis adalah Guru Besar Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia
0 komentar:
Poskan Komentar