News Today

Berita Detik.com

28 Mei 2008

Teori-teori G 30 S

Menurut penulis In the Spirit of the Red Banteng: Indonesian Communism between Moscow and Peking ini, Bung Karno memang terlibat dalam peristiwa yang dikenal dengan nama G-30-S/PKI atau kudeta 1965 itu.



"The history of states and nations has provided some income for historiographers and book dealers, but I know no other purpose it may have served" (Borne)



Kutipan di atas rasanya tepat untuk menggambarkan "keuntungan" yang didapatkan oleh Prof Dr Antonie C.A. Dake, sejarawan Belanda, setelah karyanya yang berjudul Sukarno File, Berkas-berkas Sukarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Buku itu dirilis di Jakarta pada 17 November. Namun, "keuntungan" yang diraih Dake juga menuai gugatan keluarga Bung Karno.
Atas kekecewaan bahkan gugatan Sukmawati, Dake, yang meraih gelar sarjana hukum di Universitas Amsterdam, lalu master di Fletcher School of Law and Diplomacy di Massachusetts, dan doktor di Universitas Freie Berlin itu hanya bisa memohon maaf. Menurut penulis In the Spirit of the Red Banteng: Indonesian Communism between Moscow and Peking ini, Bung Karno memang terlibat dalam peristiwa yang dikenal dengan nama G-30-S/PKI atau kudeta 1965 itu.
Keterlibatan itu bisa dibaca dari indikasi bahwa Bung Karno tidak hanya sekadar mengetahui akan terjadinya aksi pembersihan terhadap sejumlah jenderal Angkatan Darat. Konon, Bung Karno pernah minta tolong kepada Untung untuk menertibkan para jenderal yang dianggapnya tidak loyal, tidak setia, dan antikomunis. Dalam buku yang diterbitkan Aksara Karunia itu, Dake menulis bahwa Soekarnolah orang yang mengadu domba Angkatan Darat dengan PKI serta antarpemimpin Angkatan Darat sendiri.
Memang, kalau kita membicarakan peristiwa 1965, selama ini sudah berkembang banyak teori. Versi Dake merupakan salah satunya, kalau tidak mau disebut lagu lama yang diaransir baru. John Hughes juga pernah mendukung versi Dake. Berikut ini beberapa teori lain yang berkembang, diantaranya :
  1. Teori Arnold Brackman, yang mengutip Buku Putih Orde Baru menyebutkan bahwa dalang peristiwa itu PKI dan Biro Khususnya, dengan merekayasa ABRI. Motifnya merebut kekuasaan dan menciptakan masyarakat komunis di Indonesia. Ini adalah versi yang sekarang diajarkan di sekolah-sekolah dan menjadi sejarah resmi. Didukung oleh pemerintah Orba, TNI dan beberapa sejarawan macam : Guy Pauker, Marshall Green dan Arnold Brackman. Teori ini menunjuk pada alasan2 yang kasat mata, seperti : PKI menculik dan mengeksekusi para jendral. PKI telah menghimpun massa di daerah Lubang Buaya. PKI membentuk sebuah biro rahasia non-organik, yang disebut dengan kode : kelompok Pringgondani dengan dikomandoi oleh tokoh misterius berkode Syam dan PKI beberapa waktu sebelumnya sudah menuduh Dewan Jendral hendak melakukan kudeta thd Sukarno. Namun demikian teori ini masih punya kejanggalan berupa : tidak logis PKI memberontak ketika sedang menikmati kekuasaan termasuk kedekatannya dengan Presiden Sukarno. Dan lagi sosok misterius Syam sampai sekarang belum terungkap jatidirinya.
  2. Teori Cornell Paper, yang menyebut pelaku utama adalah sebuah klik Angkatan Darat. Peristiwa itu persoalan konflik internal di tubuh Angkatan Darat dengan memancing agar PKI terlibat. Wertheim, Cornel Paper, Coen Hotzappel, dan M.R. Siregar mendukung teori ini. Pendukung utama teori ini adalah para peneliti dari Universitas Cornell. Alasannya pelaksana Gestapu adalah pasukan TNI-Cakra Bhirawa yang dikomandani Letkol Oentoeng dan didukung oleh TNI-AU dan pasukan KKO ( sekarang Marinir ) yang dikomandani Omar Dhani ( CMIIW ). Pada waktu itu TNI telah terpecah belah karena memiliki afiliasi politik masing2. Contoh : TNI-AU yang mendukung PKI, TNI-AL yang loyalis Sukarno dan TNI-AD yang cenderung anti-komunis.
  3. Teori yang dipopulerkan Peter Dale Scott dan Geoffrey Robinson bahwa otaknya adalah CIA yang ingin menjatuhkan Soekarno yang dianggap pro-PKI.
  4. Teori yang dicuatkan Greg Poulgrin. Menurut dia, skenario besar CIA (seperti teori Peter Cale Scott) bertemu dengan Inggris yang mempunyai motif melindungi kepentingan aset-asetnya dengan cara menghentikan politik Soekarno yang vokal terhadap para neoimperialis seperti AS dan Inggris.
  5. Teori seperti yang dikemukakan Bung Karno sendiri dalam Nawaksara bahwa dalam G-30-S tidak ada pelaku tunggal. Ada konspirasi antara unsur-unsur nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) yang ingin menggagalkan jalannya revolusi Indonesia. Gerakan itu juga didukung oleh segelintir pemimpin PKI dan oknum-oknum Angkatan Darat. Oei Tjoe Tat, Manai Sophiaan, dan para Soekarnois lain meyakini teori semacam ini.
  6. Teori yang dikemukakan oleh WF. Wertheim, Coen Holtzappel serta media dan jurnalis Amerika. Bahwa menjadi latarbelakangnya adalah bingkai besar dunia yang sedang dalam Perang Dingin. Amerika menginginkan Indonesia bebas dari pengaruh Komunis karena sebagai buffer kawasan Oceania ( Aussie ). Ditunjang oleh kekuatan kaum hijau ( ijo ) yaitu kalangan santri dan tentara yang nasionalis, maka Amerika mendukung Suharto sebagai perwira muda yang masih segar terhadap dikotomi politik waktu itu. Sementara Jendral2 tua sudah memiliki afiliasi2 politik sendiri2.
    Tapi yang jelas sebelumnya Dewan Jendral TNI-AD memang pernah melakukan usaha kudeta terhadap presiden Sukarno. Dan kemudian ditemukannya dokumen rahasia dari diplomat Inggris yang berisi bahwa Dewan Jendral akan mengkudeta Sukarno ( eh eh eh yang ini nanti aja wa bahas, soal na harus ubek2 lagi buku2 wa.....wa lupa pernah baca di buku apa ya ? ). Kelemahan teori ini : tidak ada bukti valid.
    Namun ada alasan lain yang sangat mencolok yaitu mengapa Suharto sebagai pangkostrad tidak masuk dalam daftar eksekusi PKI ? Padahal posisinya merupakan ketiga tertinggi dalam tongkat komando bila terjadi kondisi gawat darurat. Dan lagi sebagai mantan Panglima Divisi Diponegoro ( Jawa Tengah ), Suharto kenal baik dengan Oentoeng, Latief dan Suparjo yang merupakan pimpinan tentara pro-PKI ( Madiun ). Wertheim berpendapat Syam adalah intelejen suruhan suharto yang meng-infiltrasi PKI.
  7. Teori Operasi intelejen Partai Komunis Cina.
    Ini pernah dikemukakan oleh pihak Amerika dan CIA namun kemudian dicabut kembali. Alasannya adalah tanggal 1 Oktober adalah hari nasional Cina ( ? → ada yang tahu mengenai ini ? ) dan PKI hanya mengirimkan delegasi kelas rendahan ke Cina, sementara para pemimpinnya tetap berada di Indonesia, mengindikasikan bahwa PKI sedang melakukan “ sesuatu “. Amerika menuduh Partai Komunis Cina telah memiliki daftar jendral yang dieksekusi bahkan sebelum peristiwa Gestapu terjadi. Kelemahan teori ini adalah : tidak ada bukti valid.
  8. Teori yang muncul setelah lengsernya Soeharto pada 1998 yang diyakini oleh Ben Anderson bahwa dalam peristiwa 1965, Soeharto terlibat. Sebab, siapakah yang paling diuntungkan dengan peristiwa itu? Hanya Soeharto yang selama 32 tahun mampu menggenggam kekuasaan di negeri ini. Dan selama Orde Baru berkuasa, sejarah telah menjadi alat propaganda untuk melanggengkan kekuasaan. Karena itu, tidak boleh ada teori lain, terlebih mengenai peristiwa G-30-S, selain versi pemerintah Orde Baru.
Mana teori yang paling benar? Apa pun jawabannya, yang pertama-tama paling diuntungkan, entah keuntungan finansial entah politis, tentu saja adalah para sejarawan atau para penulis teori itu, seperti bunyi kutipan di awal tulisan ini. Tapi bagaimana dengan tanggung jawab keilmuan para sejarawan? Untuk menjawab yang terakhir ini kiranya juga dibutuhkan sejarawan tersendiri untuk menyelidikinya.
Sejarah peristiwa 1965 versi Orde Baru, misalnya, jelas harus dikritik. Contohnya dalam buku Kesaktian Pancasila di Bumi Pertiwi terbitan BP Alda/Penerbit Almanak RI. Pada halaman 150 terdapat sebuah foto mayat-mayat bergelimpangan dalam keadaan terikat di tepi Bengawan Solo. Dalam keterangan foto tertulis bahwa mereka korban keganasan PKI. Padahal fakta yang benar mayat-mayat itu justru anggota PKI yang dibantai dan mayatnya dibiarkan begitu saja di tepian Bengawan Solo. Dalam hal ini, sejarawan memang harus bisa obyektif dan bukan hanya mengejar keuntungan politis atau finansial. Sejarawan tidak boleh tinggal diam ketika kemanusiaan dikorbankan serta kebenaran dimanipulasi.
Teori Dake mengenai keterlibatan Bung Karno juga perlu dikritik. Apa motif sesungguhnya? Menurut Soekarnois yang masih cukup banyak di Belanda, apalagi di Indonesia, keberadaan Bung Karno memang membuat jengkel negara-negara pengusung neoliberalisme seperti AS atau Belanda serta negara Barat lainnya. Semasa Bung Karno, para neolib atau nekolim tidak bisa menjajah Indonesia seperti sekarang ini. Masih menurut para Soekarnois, buku Soekarno File tampaknya akan dijadikan salah satu persiapan strategi jangka panjang guna memuluskan jalan bagi usaha negara-negara neoliberalisme untuk memecah belah Negara Kesatuan RI.
Meski begitu, menurut salah satu eksponen Angkatan '66, Sugeng Saryadi, membaca Sukarno File ibarat menonton serial televisi X Files: misteri di akhir cerita selalu membuka kemungkinan adanya misteri lain yang masih menyertai. Apa pun kesimpulan kita mengenai peristiwa G-30-S, tampaknya sosok Bung Karno masih tetap memiliki daya tarik. Di tengah membengkaknya utang dan isu terorisme, kita bangsa Indonesia sebenarnya masih butuh sosok pemimpin yang berani menolak untuk didikte Bank Dunia, IMF, dan tangan neolib lainnya. Bagaimana?


** Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia. Saat ini penulis sedang berusaha menyelesaikan penelitian skripsinya di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI dengan mengambil judul "Perkembangan Kesenian Patingtung Di Wilayah Kabupaten Serang Tahun 1970-2000"

1 komentar:

  1. Tulisan Ini adalah kesimpulan hasil diskusi pada mata kuliah Sejarah Pada Masa Demokrasi Liberal dan Terpimpin, mengenai kesamaan bisa sja terjadi dimanapun...apalagi di dunia maya.!! hehe...

    BalasHapus

Berbagi

Google Search Tool